{"id":12266,"date":"2023-05-21T13:39:00","date_gmt":"2023-05-21T06:39:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/?p=12266"},"modified":"2024-10-31T16:08:46","modified_gmt":"2024-10-31T09:08:46","slug":"penyebab-paket-rusak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/penyebab-paket-rusak\/","title":{"rendered":"Kumpulan Kesalahan Umum Penyebab Paket Rusak, Wajib Hindari!"},"content":{"rendered":"\n<p>Kerusakan barang bisa terjadi dalam beberapa faktor salah satunya kesalahan pengemasan paket sehingga menyebabkan barang lecet atau bahkan sampai rusak dan tidak bisa digunakan lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesalahan ini sangat umum dilakukan oleh banyak orang tidak terkecuali pada penjual online karena kurang berhati-hati dan tidak mengidentifikasi secara baik pengemasan yang paling cocok untuk jenis barang yang akan dikirim.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi untuk mengurangi kerusakan paket saat sampai pada alamat tujuan ketahui terlebih dahulu beberapa kesalahan pengemasan yang perlu Anda hindari.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penyebab Umum Paket Rusak<\/h2>\n\n\n\n<p>Pernah mengirimkan atau menerima barang dengan kondisi rusak? Biasanya yang pertama kali dilakukan adalah menyalahkan pihak ekspedisi. Tapi bisa jadi kesalahan ini dibuat oleh Anda sendiri karena ada kesalahan pengemasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Agar tidak terulang lagi, yuk simak beberapa kesalahan pengemasan barang yang menyebabkan paket rusak dan wajib dihindari oleh Anda:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Pengemasan Tidak Sesuai dengan Jenis Barangnya<\/h3>\n\n\n\n<p>Teknik pengemasan barang dan pemilihan material kemasannya sangat penting dan harus sesuai dengan jenis barang yang akan Anda kirim. Penyebab paket rusak yang pertama adalah pengemasan yang tidak sesuai dengan jenis barang akan merugikan karena akan menyebabkan barang Anda rusak saat dikirim.<\/p>\n\n\n\n<p>Hindari pengemasan yang tidak sesuai dengan jenis barang jadi tips pengiriman barang aman paling penting dan harus Anda ingat. Jadi sebelum mengirim barang diharapkan untuk mengidentifikasi terlebih dahulu terkait dengan tipe pengemasan yang paling cocok dengan jenis barang yang akan dikirim sehingga dapat menurunkan risiko kerusakan barang.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/cara-packing-paket-aman\/\" data-type=\"post\" data-id=\"12178\">Ternyata Begini Cara Packing Paket yang Aman, Olshop Wajib Tahu!<\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Kotak atau Kardus Terlalu Tipis<\/h3>\n\n\n\n<p>Lihatlah jenis barang yang akan dikirim, jika itu adalah barang berharga atau paket yang mudah pecah hindari penggunaan kotak yang terlalu tipis karena mudah sekali hancur atau penyok saat di perjalanan menuju alamat tujuan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kotak yang terlalu tipis adalah kesalahan pengemasan barang yang menyebabkan paket rusak karena tidak kuat menahan tekanan dibandingkan kotak tebal.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Tidak Menggunakan Bubble Wrap atau Pelindung<\/h3>\n\n\n\n<p>Seperti fungsinya pelindung ini berguna untuk melindungi barang dari risiko kerusakan, lecet atau pecah. Apalagi saat pengiriman barang akan mengalami tekanan, guncangan dan hal lainnya yang bisa terjadi sehingga menyebabkan kerusakan.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/tentang-bubble-wrap\/\" data-type=\"post\" data-id=\"12234\">Bubble wrap<\/a> menjadi bahan pelindung yang paling aman, selain melindungi paket dari berbagai macam guncangan, bubble wrap juga terbuat dari plastik sehingga memiliki sifat tahan terhadap air.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain bubble wrap untuk menghindari paket rusak, Anda juga bisa gunakan bahan pelindung dari koran atau busa.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Kotak Tidak Dilapisi Lagi<\/h3>\n\n\n\n<p>Banyak sekali orang yang menganggap mengirim barang menggunakan kotak sudah cukup aman sehingga pada bagian luarnya tidak menggunakan lapisan apa-apa lagi. Padahal kotak hanya berguna untuk menahan tekanan saja, tapi bahannya masih sangat rapuh apalagi materialnya terbuat dari kertas.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menghindari kerusakan barang, Anda bisa melapisi kotaknya Kembali menggunakan bantalan atau kantong kresek\/plastik agar lebih aman dan semakin kuat menahan berbagai macam tekanan. Terutama jika alamat tujuannya memiliki jarak tempuh yang cukup jauh karena memiliki risiko yang lebih tinggi.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Merekatkan Kotak Asal-Asalan<\/h3>\n\n\n\n<p>Merekatkan kotak juga jadi langkah yang penting untuk memastikan paketnya terkemas dengan rapi. Tapi sayangnya kesalahan pengemasan barang ini sesekali ditemukan sehingga menyebabkan barang atau paket yang ada di dalamnya rusak.<\/p>\n\n\n\n<p>Kardus yang tidak merekat dengan baik dikhawatirkan akan membuat paketnya keluar atau mudah terbentur dengan barang lainnya. Jadi untuk menghindari situasi ini Anda bisa pastikan telah merekatkan kotaknya dengan baik kalau perlu lakukan beberapa lapis.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Tidak Menggunakan Packing Kayu untuk Barang Pecah Belah<\/h3>\n\n\n\n<p>Packaging kayu memang akan menambah ongkos kirim menjadi sedikit lebih mahal dibandingkan dengan lapisan pelindung lainnya seperti bubble wrap. Tapi penggunaan packaging kayu ini sangat penting digunakan khususnya untuk barang jenis pecah belah.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang untuk beberapa jenis barang cukup menggunakan bubble wrap atau kardus saja sudah cukup, tetapi ada jenis barang yang memiliki risiko rusak lebih tinggi sehingga wajib untuk gunakan lapisan kayu.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa jenis barang yang wajib menggunakan packaging kayu adalah CPU, Laptop, Table, Smartphone, barang-barang terbuat dari kaca, dan peralatan elektronik lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Baca juga:<\/strong> <a href=\"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/cara-packing-barang-elektronik\/\" data-type=\"post\" data-id=\"12216\">Begini Cara Packing Barang Elektronik Anti Rusak Sampai Tujuan<\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">7. Tidak Menempelkan Stiker &#8220;Fragile\u201d<\/h3>\n\n\n\n<p>Menempelkan stiker tanda Fragile ini walaupun sederhana tetapi sangat penting, tetapi sayangnya sering dilupakan oleh si pengirim. Barang paket yang memiliki tanda fragile akan diperlakukan secara khusus oleh para petugas ekspedisi sehingga dapat diterima dalam keadaan masih baik.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">8. Keliru Menggunakan Pengemasan Barang<\/h3>\n\n\n\n<p>Sebelum mengemas barang para pengirim wajib untuk mengidentifikasi terlebih dahulu jenis barang tersebut cocok menggunakan jenis pengemasan yang mana. Masalah keliru menggunakan pengemasan barang ini sering terjadi sehingga membuat barang di dalam paket jadi rusak.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti contohnya mengirim barang elektronik dengan menggunakan kardus saja, karena barang elektronik termasuk barang yang mudah rusak atau fragile sebaiknya gunakan lapisan pelindung dan packing kayu agar lebih aman.<\/p>\n\n\n\n<p>Perhatikan dengan baik tata cara packing barang yang benar untuk menghindari kesalahan pengemasan barang yang sering jadi penyebab kerusakan barang saat proses pengiriman.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">9. Kesalahan Packing Untuk Paket Bubuk Dan Cairan<\/h3>\n\n\n\n<p>Barang-barang yang rentan rusak saat diterima pada alamat tujuan adalah paket bubuk dan cairan. Karena rentan pecah, bocor, dan masih banyak lagi, sehingga Anda perlu memperhatikan pengemasan untuk jenis barang seperti ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menghindari kesalahan pengemasan barang pada paket bubuk dan cairan pastikan Anda telah menggunakan solasi untuk menghindari kebocoran untuk paket cairan dan gunakan pelindung tahan goncangan dan tekanan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kerusakan barang bisa terjadi dalam beberapa faktor salah satunya kesalahan pengemasan paket sehingga menyebabkan barang lecet atau bahkan sampai rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Kesalahan ini sangat umum dilakukan oleh banyak orang tidak terkecuali pada penjual online karena kurang berhati-hati dan tidak mengidentifikasi secara baik pengemasan yang paling cocok untuk jenis barang yang akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":13815,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"content-type":"","rank_math_lock_modified_date":false,"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[],"class_list":{"0":"post-12266","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-logistik"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12266"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12266"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12266\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14572,"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12266\/revisions\/14572"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13815"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.cekidot.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}